simplicity Is My band

Januari 30, 2009 at 3:15 am | In Uncategorized | Leave a Comment

simplicity-widescreen-450x281simplicity adalah band pertamaq, sebenarnya gak awal2 bget jga. ni band ank2x masih pelajar. q aja yang da kuliah. personelnya : bibi (drum), arman (bass), yoga(gtar) and dodik (gitar) aku yang jadi vokal Plus Manager ni band. simplicity sendiri yang artinya kesederhanaan tu berarti kita ingin hidup sederhana gak foya2, gak buat konflik yang bikin masyarakat resah, namun dalam hal bermusik, kita bikin semenarik mungkin. yang beda ama band2 yang lain.

“Being simple requires more complications than being complicated. Simplicity means you stop appearing complicated to others”

puisi

Januari 9, 2009 at 7:28 am | In Uncategorized | Leave a Comment

musikalisasi puisi pertama kali saya mengenalnya waktu kuliah, dan lebih mendalaminya waktu kuliah juga mulai awal semester. bakat menulis puisinya sendiri mulai tampak setelah lulus dari sma, kuliah sore jadi banyak waktu luang paginya dirumah, saya pake buat baca buku dan nulis puisi. buku sastra pertama yang saya beli yaitu surat-surat cintanya khalil gibran yang saya beli di jalan semarang surabaya sama temen2 kuliah. semasa sma kebanyakan saya baca buku tentang agama islam. diwaktu kuliah saya lebih banyak baca tentang buku2 seni seperti buku kesusastraan, buku musik, buku film, buku lukisan crayon, sport and lain2. berawal dari kepenatan tentang banyak hal, seni adalah solusi terbaik untuk mengeluarkan unek2 yang ada didalam hati kita agar hati kita tetap sehat dan juga kalo unek2 itu  disalurkan dengan nilai seni yang tinggi entah melalui puisi/tulisan, gambar/lukisan, lagu atau pun film (lebih high class lagi) malah menjadi penambah income kita.

TAMU TAK DIUNDANG

November 7, 2008 at 7:35 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Di pesta pernikahan mu

Aku hadir sebagai tamu tak diundang

Aku hanya ingin melihat mu untuk terakhir kalinya

Kau dengan lelaki mu itu

Duduk di pelaminan indah

Terhias akan ukiran cinta

Tubuhku merasa terbakar oleh amarah

Kau begitu mudahnya melupakan semua puisi

Yang pernah aku tulis untuk mu

Begitu teganya kau

mentertawakan aku yang tak berdaya ini

di pesta perkawinanmu

Menganggap aku seperti badut bodoh

Pengobral lelucon murahan

Senyuman mu itu sungguh menyakitkan aku

Dan untuk segalanya

Aku ucapkan terima kasih

Aku berdoa agar kau bahagia selamanya

Aku akan mencoba untuk melupakanmu

Walau pun itu adalah pekerjaan yang teramat sulit bagiku.

Roman Penuh Harap

November 7, 2008 at 7:28 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Cerita kehidupan ku adalah roman agung ku

Roman kehidupan diri yang penuh harap

Harapan akan kehadiran bidadari kecilku

Yang sekarang tertidur di negri kayangan

Bidadari kecil buah hati

Buah cinta wujud dari kasih sayang

Di biduk kecil ini

Kuharap dia kembali sekali lagi

Hadir untuk mengisi kekosongan hari

Dan memberi warna-warni kehidupan

Di negri insani ini.

Renaisance Semu

November 7, 2008 at 7:26 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Ali adalah anak berumur belasan tahun. Selama ini hidupnya bergelimangkan kegelapan hati. Hal itu dikarenakan bahwa dia tak punya seseorang yang membawa penerangan hidup dalam menjalani kehidupan yang baik. Kedua orang tuanya yang bertugas untuk mendidik malah menjadi penjerumus kedalam kehinaan. Mereka malah mengajarkan hal-hal yang menjadi persepsi budaya kolot yang sakral dan tak boleh dilanggar sedikit pun, doktrin-doktrin kedua orang tuanya sudah layak menjadi catatan sejarah, ajaran-ajaran mereka sudah usang untuk dipakai dalam zaman informasi ini. Ali yang masih belum tahu apa-apa dan lebih banyak mendapat gemblengan hidup dari orang tua dan orang terdekat, mau tak mau dia mengikuti ajaran itu tak ada pilihan lain.

Seiring waktu ali mulai sadar diri bahwa dirinya hina di hadapan teman-teman sekolah, tetapi dia masih tidak tahu apa yang menyebabkannya terlihat hina. Pelajaran baik buruk yang dia terima selama ini tak bisa menjawab persoalan tersebut.

Dia hanya menggunakan persepsi dari pikirannya sendiri walaupun itu salah tetapi dia masih punya hati dan pikiran yang bisa menjadi tempat pencarian kebenaran.

Ali merenungi kehidupannya mengapa dia senantiasa terlihat hina dan rendah dihadapi orang lain. Kehinaan yang amat menekan hati dan menghitamkan jiwa raga. Kehinaan pembawa penderitaan yang sangat pedih.

Hidayah, hidayah, dan hidayah. Ali mengharapkan nur kebenaran. Dia merenung, berfikir dan menyimpulkan bahwasannya yang selama ini membuatnya hina adalah perbuatan itu.

Sebuah perbuatan yang setiap hari senantiasa dilakukannya, sebuah perbuatan yang melemahkan jiwa raga hati pikiran. Sebuah perbuatan yang amat-amat dan amat sulit untuk ditinggalkan. Perbuatan yang mengakibatkan banyak kehilangan waktu dengan sia-sia. Perbuatan itulah yang menjadikan Ali hina dihadapan orang lain. Selama ini dia menganggap bahwa perbuatan itu tidaklah merugikan orang lain, tak ada yang terambil haknya karena perbuatan itu (tetapi perbuatan yang sangat merusak dirinya sendiri).

Cahaya sudah menerangi kalbu Ali. Dia sadar bahwa perbuatan yang sudah menjadi kebiasaan hidupnya yang sudah lama dilakukan sejak dia masih belum sekolah yang dianggap bukan perbuatan dosa ternyata sebuah perbuatan yang sangat hina dan termasuk dosa besar adanya.

Dia mulai meratapi hidup. Apakah mungkin dia dapat meninggalkan kebiasaan buruk itu? Padahal selama ini perbuatan itulah yang menjadi pelipur lara hatinya. Tekanan besar menimpa. Tak ada pilihan lain yang lebih baik, Ali bertobat kepada tuhan untuk merubah hidup menuju hidup yang lebih baik, lebih suci.

Bertobatlah ia meminta ampun dan perlindungan dari godaan syaitan yang senantiasa menggelitik hati, membisikkan keindahan semu di kedua telinga tanpa henti. Syaitan terkutuk itulah yang menjadi musuh terbesarnya, Ali sudah sadar akan hal itu.

Tobat pertamanya tak lama bertahan di pegang, Ali terjerumus keperbuatan hina itu lagi, tangis penyesalan melanda dia. Selang waktu, Ali bertobat lagi untuk kedua kalinya tetapi tetap saja gagal, dia masih belum kuat menahan gejolak hati yang sangat-sangat membara, meluap-luap seperti serentetan ledakan-ledakan bom atom. Tangis penyesalan melanda dia lagi.

Dia ingin bertobat dengan kesungguhan sepenuh hati. Dan ucapan tobat ketiganya telah terdengar oleh Sang Tuhan. Ali sekarang amat takut dengan kehinaan, dia bukannya takut terhadap siksa Tuhan, dia teramat takut mendapat cacian dari orang lain. Dia sudah teramat banyak mandapat caci maki dan tak ada pujian sedikitpun untuk membuatnya merasa senang.

Ketakutan yang teramat sangat itulah yang menjadi semangat untuk memegang teguh tobatnya.

Semusim berlalu, Ali mulai merasakan nikmatnya dunia. Kegembiraan, suka cita akan dunia telah menghampiri, sanjungan, pujian dari mulut-mulut munafik manusia telah menghiasi kedua telinganya. Syaitan yang senantiasa menggelitik hati mulai melihat ada pintu yang terbuka untuk dimasuki menuju ke hati kecil sang Ali.

Ketakutan Ali berangsur-angsur memudar, akan tetapi gejolak jiwanyasemakin menguat. Ali mulai berfikir untuk kembali melakukan perbuatan hina itu lagi, walaupun sekarang dia mulai lupa akan kenikmatan yang ditimbulkan dari perbuatan itu, tetapi firasat yang sudah lama terpendam mulai muncul lagi kepermukaan, menjadi beban pikiran.

Terus-menerus Ali mendapatkan serangan dari luar dan dalam untuk melakukan perbuatan hina itu lagi. Ali adalah manusia juga, manusia yang mempunyai unsur kehewanan dan dia tak sanggup lagi bertahan lebih lama.

Pada akhirnya, Ali membatalkan janji sucinya dengan Tuhan lagi. Penyesaln pun datang lagi pada akhirnya, mengakibatkan kegoncangan hidup yang teramat sangat. Dia berfikir untuk mengakhiri hidup dengan sebuah pedang di tangan kirinya.

Di waktu yang sama terdengar suara dari langit, suara misterius itu berkata : “Ali, mengapa kamu ingin mengakhiri hidupmu, apakah kamu tidak mengambil hikmah dari setiap hal yang terjadi didalam hidupmu, berfikirlah hai Ali, bahwa kami tidak memberikan suatu ujian kepada hamba kami diluar kemampuannya”.

Setelah mendengar suara itu Ali menggigil disekujur tubuhnya, pedang ditangan kirinya terlepas dari genggaman terjatuh menancap di tanah. Dia tak bisa berkata dengan mulut, dia hanya bisa berkata di dalam hati : “ Jika ini adalah hidupku maka berilah aku kehidupan darinya, jangan biarkan hambamu ini mati dengan sia-sia. Berilah kekuatan dalam menjalani kehidupan-Mu wahai pembuat kehidupan, limpahkanlah kesejahteraan dan keselamatan buat diriku”.

Ali bertobat untuk keempat kalinya dengan berniat bulat untuk tidak terjerumus lagi kedalam kehinaan. Memang penyesalan timbul di akhir sebuah perbuatan. Walaupun Ali telah berniat bulat kuat akan tetapi tetap saja dia terjerumus kedalam perbuatan hina itu lagi, dan penyesalan melanda diri Ali untuk kesekian kalinya.

Tak ada pilihan terbaik selain bertobat, Ali mulai meminta ampun dari Tuhannya dan bertobat lagi, tetapi diakhir waktu dia terjerumus ke dalam maksiat itu lagi. Bertobat lagi, terjerumus lagi, bertobat lagi, terjerumus lagi, bertobat lagi, terjerumus lagi, bertobat lagi, terjerumus lagi, bertobat lagi, terjerumus lagi…………………

Perubahan yang Ali lakukan bukanlah sesuatu yang merubah kehidupannya lebih baik, tetapi malah membuatnya lebih buruk dari sebelumnya, karena telah menghianati janji-janji yang telah dibuatnya sendiri dengan Tuhan. Dia telah mempermainkan kepercayaan yang diberikan Tuhan kepadanya. Perubahan yang selama ini dia lakukan adalah perubahan semu. Dan perbuatan hina yang selalu di lakukan Ali adalah meninggalkan kewajiban untuk senantiasa memperbanyak ilmu kehidupan.

Nyanyian Bilal

November 7, 2008 at 7:23 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Suatu saat Bilal berdiri menatap fajar, dia menarik nafas dalam-dalam menghirup udara pagi, lalu bernyanyi lirih, menyanyikan sebuah senandung kalbu gubaannya :

katakanlah pada dunia

bawasannya Aku adalah penyeru keindahan

keindahan dari cipta alam raya semesta

walaupun keindahan tak abadi adanya

masih tetap saja membuat manusia terbuai tak berdaya

siksa batin tak dihiraukan

siksa raga pun dijalani juga

hanya untuk memperoleh keindahan dunia semata

tak peduli akan siksa

siksa pedih setelah kehidupan yang kedua

aku tidak berniat untuk membuat mereka lebih menggebu dalam

mencari-cari keindahan dunia

aku hanya ingin menyadarkan mereka bahwa

dunia itu adalah sebuah karya cipta sempurna dari

tangan Sang Maha Sempurna

sebenarnya, dunia memberikan kenyataan bukan kebohongan

dunia bukan hanya tempat kebirukan

tetapi masih banyak kebaikan yang ada disini

dunialah yang menyimpan jasad para makhluk terbaik

alam semesta

dunia menyimpan banyak keindahan

keindahan yang melebihi segala keindahan yang selama ini

ia tampakkan

dunia adalah ladang bagi para pengembala

dan tak ada yang puas dengan hasil yang diperoleh

oleh seluruh pengembala itu

setelah mereka menemui kehidupan yang kedua

jika dia ahli kebaikan

maka dia akan menyesal dengan kebaikannya yang sedikit

jika dia ahli keburukan

maka dia akan menyesal dengan keburukannya yang melampaui batas

itulah kehidupan dunia

penuh dengan misteri penciptaan”

Setelah Bilal menyanyikan lagu gubaannya, Sang Dewa Cahaya sudah mulai terlihat, menampakkan wujud yang menyilaukan, penuh dengan cahaya, dan menyentuh wajah Bilal, lalu dia berkata :

Andai Aku bisa,

Sang Dewa Cahaya itu ada di tangan kananku,

Pasti akan aku jaga sinarnya agar tidak redup

Untuk menyinari pikiran dan hatiku yang sunyi

Bagai malam buta yang panjang”

Sebenarnya Bilal bukanlah seorang penyanyi yang baik. Dia hanya memiliki keinginan besar untuk mewujudkan mimpi indahnya. Untuk itu dia selalu belajar dengan tekun bersuara merdu membaca lagu-lagu hasil gubaannya, meski dia tak punya seorang guru bijak atau seorang yang memberi semangat untuk senantiasa berjuang di jalan yang dipilih oleh suara hatinya.

Dia mempersiapkan diri untuk bernyanyi dihadapan separuh nafasnya, separuh nafas yang masih dalam pencarian. Dia juga berlatih untuk menjadi penyeru kebaikan yang bisa menyentuh hati bagi segenap jiwa yang mendengar, dan untuk tujuannya yang teragung yaitu dia berlatih untuk menjadi penyeruh kemenangan atas kaumnya. Dan inilah nyanyian-nyayian Sang Bilal.

Nyanyian untuk separuh nafasnya :

Sang Maha Dewi telah datang menemuiku

aku pun terkagum dengan keindahannya

dia memancarkan kesucian jiwa dan raganya

aku pun menginginkankasihnya itu

mata jiwaku mata batinku dan mata lahirku

telah terpesona oleh keindahannya

dan cinta suciku ini ku persembahkan untuknya

cinta suciku yang menginginkan kesuciannya

agar bisa mendapatkan kesucian dari sang maha suci

bukanlah cinta karena hasrat dari luapan jiwa

bukan bukan bukan itu

karena itu adalah kehinaan bukan kemuliaan

ku yakinkan restu bumi untuk mendapatkan Sang Maha Dewi

dan kupastikan kita akan pergi bersama ke surga cinta kita

yang tak akan pernah habis ditelan oleh Sang Waktu”.

Nyanyian Bilal untuk menyerukan kebaikan kepada segenap bani Adam :

Wahai segenap pemilik jiwa

yakinkanlah di dalam hatimu yang dalam

bahwasannya hanya ada satu sumber kehidupan

di alam raya ini

janganlah menyembah yang lain

cukuplah Sang pencipta agung itu semata

janganlah menyembah ciptaan-Nya

karena mereka itu sama dengan kita adanya

jangan biarkan diri kita menghina keluasan kasih-Nya

dia hanya menginginkan Sang Makhluk memiliki

kesamaan budi dengan Keesaan-Nya

maka tetaplah dalam jalan yang lurus itu

yang telah ditunjukkan oleh para utusan dari langit

walaupun amat pahit yang kau rasakan

di dalam hati dan raga mu”.

Nyanyian Bilal untuk menyerukan kemenangan kaumnya :

Bumi telah kami kuasai !!

karena kami telah mendapatkan restu dari pemilik Alam Raya

kita memperoleh restu itu

karena kita telah menjalankan seluruh perintah dari-Nya

perintah-perintah yang terkandung didalam firman-firman agung

firman-firman agung yang tertulis didalam kitab suci kami

dan kami sekarang telah mengagung-agungkan kitab suci kami

yang telah lama mati

maka dari itu

kami menjadi kaum teragung lagi di bumi ini

seluruh makhluk dibumi dilangit dan diantara keduanya

bertakbir agung menyambut kemenangan kami”.

Malam yang Gila

November 7, 2008 at 7:20 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Kemarin adalah kejadian yang sangat menakjubkan bagiku. Guling yang aku peluk selama ini di setiap malam-malam ku telah berubah wujud menjadi seorang bidadari.

Guling berubah menjadi menjadi bidadari??!! Tak masuk akal memang, tetapi itulah yang terjadi kemarin malam. Dan tuhanku sendiri yang menikahkan aku dengan bidadari tersebut.

Sungguh bahagia, bidadari surga telah aku dapatkan di bumi, di kamarku yang kacau ini. Tanpa menunggu waktu lama, langsung saja aku lumat habis bibirnya, aku jamahi seluruh tubuhnya dan aku berucap “I love you, I love you, I love you………” kepadanya, dengan harapan dia bisa merasakan kebahagiaan juga di waktu bermain-main dengan seorang pemuda dari bangsa manusia.

Bidadari itu menanggapi semua rangsangan yang aku berikan, dan dari mulutnya aku bisa merasakan air ludah yang lebih manis dari pada madu, dari tubuhnya aku mencium bau kasturi (minyak wangi surga), kulitnya selembut marsmellow, wajahnya, tak ada yang mampu menandingi.

Semalaman aku bersenang-senang dengan bidadari itu, hingga keperjakaanku terenggut olehnya, dengan tidak ada rasa penyesalan sedikit pun.

Biar tenaga ini sudah terkuras habis, aku tetap saja berusaha untuk bermain-main dengannya terus menerus, tak ada rasa jenuh di dalam hati untuk melakukannya berulang kali, karena dia begitu indah adanya…………

Oh, malamku yang gila..la..la..la….

KU KIBARKAN BENDERA HITAMKU

November 7, 2008 at 7:16 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Perang akan berlangsung di bumi hijau raya ini. Di suatu bukit aku bersinggah beserta para pejuang kebenaran lainnya. Pemimpin pasukanku beserta sahabat-sahabat terbaiknya masih sibuk mempersiapkan strategi perang yang akan dipakai besok untuk menghadapi kaum kafir-munafik yang menjadi musuh kami.

Aku disini bersandar di sebuah pohon rindang besar masih memikirkan pesan yang disampaikan Nabi kepadaku sebelum aku meninggalkannya untuk ikut berperang. Dia berpesan “Wahai Pedang Allah, disaat kau berperang nanti janganlah kamu membunuh perempuan, anak-anak, orang tua yang tak kuat lagi berperang, utusan musuh yang resmi datang kepada mu, jangan merusak atau membakar negeri, jangan menyerang musuh yang belum sampai kepadanya risalah kebenaran ini. Di medan peperangan tetaplah untuk senantiasa menjaga kesopanan dan rasa kemanusiaanmu, lakukanlah itu. Apabila keadaan mendesak bertindaklah dengan perhitungan yang baik menurut Allah dan Rosul-Nya”.Aku selalu mengingaingat pesan itu.

Sebelumnya aku adalah seorang bocah kecil yang masih dibawah pengawasan seorang ibu, tetapi sekarang aku adalah seorang pejuang agama Allah yang senantiasa menjunjung tinggi Risalah-Nya dan menyebarluaskan ajaran-Nya keseluruh pelosok dunia.

Salahuddin adalah nama pemimpin pasukan kami, sekarang kami berada di sebuah kawasan tenggara di benua terbesar. Menghadapi suatu kaum yang telah meyakini agama ini tetapi tidak menerapkan seluruh ajarannya.

Pemimpin mereka memang benar telah meyakini kebenaran risalah yang kami bawa, para pejabat negara mereka juga telah meyakini risalah ini, dan penduduk negeri ini sebagian besar juga telah meyakininya. Akan tetapi sikap hidup mereka masih menyimpan jauh dengan ajaran agamanya sendiri, mereka masih berusaha untuk mempertahankan ajaran-ajaran nenek moyang mereka dulu. Kehidupan mereka pun penuh dengan pemahaman baru yang lahir dari perpaduan antara kebenaran dengan kebatilan untuk mencapai keselarasan dan keseimbangan dalam hidup mereka.

Akan tetapi, apakah keselarasan yang mereka ciptakan itu telah berhasil membuat kehidupan mereka selamat -sentosa-sejahtera-bahagia? Fakta yang membuktikan bahwa negri ini penuh dengan kemaksiatan, negeri ini penuh dengan kemunafikan, negeri ini penuh dengan orang-orang miskin, negeri ini penuh dengan bencana-bencana alam besar, negeri ini sungguh terlaknat oleh Penciptanya. Padahal negeri ini adalah negeri yang menyediakan kemakmuran di alamnya, kaya akan kekayaan alam dan matahari senantiasa hadir setiap hari yang membuat negeri ini lebih indah adanya. Banyak orang menyebut negeri ini dengan sebutan Jamrud Khatulistiwa.

Aku masih belum bisa memejamkan mata, masih mengingat-ingat pesan yang diberi Nabiku. Hingga langit mulai berubah warna dari hitam menjadi kemerah-merahan. Dan aku masih bersandar di pohon besar rindang ini, mengeluarkan pedangku karena teringat sosok ayah. Di pedang ini tertuliskan nama Allah dan Rosulnya, pedang ini adalah pedang ayahku. Sama dengan tulisan yang ada di bendera hitam yang senantiasa aku bawa di sepanjang perjalanan menuju negeri tenggara ini. Pedangku, benderaki akan senantiasa ku pegang erat-erat selamanya.

Pagi sudah menjelang, salah satu pembela agama yang bersuarakan emas mengumandangkan adzan :

Allah Maha Besar,

Allah Maha Besar

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan

Yang patut di sembah melainkan Allah,

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan

Yang patut di sembah melainkan Allah

Aku bersaksi bahwa

Nabi Muhammad utusan Allah,

Aku bersaksi bahwa

Nabi Muhammad utusan Allah

Marilah Shalat,

Marilah Shalat

Marilah menuju kebahagiaan selama-lamanya,

Marilah menuju kebahagiaan selama-lamanya

Allah Maha Besar,

Allah Maha Besar

Tidak ada Tuhan yang sebenarnya

Patut disembah melainkan Allah

Kami shalat bersama, diimami oleh pemimpin kami Salahuddin. Disaat ibadah kami, kami berkedudukan sama, kedudukan kami sama dihadapan Tuhan, tak ada perbedaan kekayaan, tak ada perbedaan jabatan, tak ada perbedaan umur, tak ada perbedaan warna kulit atau perbedaan-perbedaan lain. Semua sama, yang berbeda hanyalah nilai diri setiap diri kita masing-masing, nilai diri yang hanya Allah yang tahu kadar keikhlasannya.

Selesai Shalat, kami mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi pemerintahan negeri ini. Kami mulai dikumpulkan dan menerima instruksi pemimpin kami.

Dia pemimpin kami, Salahuddin berkata “Wahai para pejuang kebenaran, peperangan ini adalah peperanan yang hanya bertujuan untuk mengagungkan agama yang hak, menyebarluaskan ajaran-ajarannya keseluruh dunia agar para umat manusia bisa terselamatkan dari keburukan-keburukan. Di negeri ini kita akan menghadapi penguasa yang telah meyakini agama kita, akan tetapi tidak sama sekali menjalankan seluruh perintahnya. Mereka memanfaatkan agama mulia ini untuk kepentingan pribadi, mereka menggunakan agama untuk tujuan politik mencari kekuasaan, bukan menjadikan agama sebagai landasan politik. Mereka telah menghinakan ajaran agama agung ini dengan sebenar-benarnya, dengan seburuk-buruknya, mereka tahu akan kebenaran tetapi tidak menjalankan ajaran itu. Mereka masih mengagung-agungkan budaya yang diwariskan nenek moyang mereka, bukan membudayakan agama yang dianut. Tak sedikit penduduk negeri ini yang telah memeluk agama yang kita peluk, tetapi amat sedikit yang sadar akan kesalahan sistem yang ada di negeri mereka. Maka dari itulah, kita sebagai pejuang agama agung ini harus bisa menegakkan kebenaran di negeri ini agar bisa terselamatkan dari kehancuran. Di dalam peperangan nanti pilihan kita hanya dua, yaitu menang atau mati. Jika kita menang kita berhasil menegakkan kebenaran, jika kita mati kita akan menempati surga tanpa dihisab. Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar !!! ”,para pejuang kebenaran menyambutnya “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar !!! ”.

Dan kami memulai perjalanan kami ke sebuah padang rumput yang sudah menjadi tempat perjanjian perang kami dengan mereka.

Di tangan kananku memegang bendera dan aku merasakan sesuatu yang sangat meledak-ledak akan semangat yang timbul dari teriakan takbir salahuddin tadi. Di hatiku tak ada keraguan samasekali bahwa apa yang aku lakukan adalah benar benar benar. Seratus persen benar dan yang aku inginkan saat ini hanyalah mati mulia di peperangan nanti.

Jumlah pasukan kami kurang lebih seribu orang, dengan jumlah pasukan ini kami tak gentar sedikit pun untuk menghadapi tentara musuh yang diperkirakan berjumlah sepuluh ribu orang, karena kami meyakini apa yang disampaikan Al Kitab kami, yang mengatakan :

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena orang-orang kafir itu kaum yang tidak menerti”.

Dari pernyataan Al Kitab itulah kami masih tetap bisa bertahan. Modal utama kami di peperangan ini adalah kesabaran.

Sesampainya di padang rumput. Tentara musuh benar-benar berjumlah seperti yang di perkirakan sebelumnya. Kami berada di satu sisi tempat ini dan mereka berada di sisi yang lain, kami saling berhadapan satu sama lain. Menurut informasi tentara mereka sangat kuat di waktu-waktu kehidupan keseharian. Tentara mereka sebelum berperang lebih banyak melawan rakyat kaum proletar dengan kejam. Tentara mereka menyiksa, membunuh, melecehkan, menekan dan menindas kaum yang tak bersenjata itu. Akan tetapi di waktu berperang melawan tentara lin, mereka tak punya nyali, kekuatan dan nyali keberanian mereka hilang dikala melawan serangan musuh yang sama-sama bersenjata. Jadi mereka hanya tangguh menindas kaum tak bersenjata penduduk mereka sendiri yang seharusnya dilindungi, tetapi bodoh dan lemah di waktu melawan tentara lain yang sam-sama punya kemampuan berperang.

Mereka di pimpin langsung oleh kepala negara beserta pejabat tinggi militernya. Sungguh ini adalah peperangan yang menjadi ancaman terbesar bagi mereka yang sebelumnya hidup damai di negeri yang banyak bencana ini. Kepala negara mereka memeluk agama yang sama dengan kami, tetapi dia memegang teguh kebenaran yang salah dari pemimpin sebelumnya. Kebenaran yang hanya timbul dari persepsi belaka, bukan dari Al Kitab yang hak. Dia memang pemimpin yang bijak sana, pengemban amanat rakyat yang secara langsung memilih dirinya untuk menjadi kepala negara, walau pun dia mengemban dan menerapkan aturan yang salah.

Kepala negara mereka berteriak dengan lantang “ Hancurkan kaum teroris, hancurkan kaum kolonialis, hancurkan kaum komunis, hancurkan mereka, hancurkan mereka, hancurkan mereka semua, serang, serang, serang!!!”

Dan mereka telah memulai peperangan ini…………

Di akhir peperangan yang menghabiskan tiga perempat hari penuh, tak satu pun pejuang kebenaran kami mati, dan kami telah berhasil menawan kepala negar beserta para pejabat tingginya dan juga sisa dari tentara mereka yang masih hidup.

Negeri ini memang sebelumnya pernah dijajah oleh bangsa lain yang berhaluan kolonialis yang mana telah mengeruk dalam-dalam seluruh kekayaan negeri ini, menyengsarakan rakyat pribumi secara tak beradab.

Dan kami bukanlah kelompok yang berhaluan kolonialisme, kamu juga bukan kelompok teroris, atau kelompok komunis. Kami adalah pejuang kebenaran yang menginginkan kesejahte4raan dunia, menegakkan aturan-aturan hidup yang benar yang telah diajarkan oleh Nabi Besar kami.

Aku, Sang Pedang Allah, tidak menggapai cita-citaku, tetapi aku masih punya harapan untuk mewujudkan cita-citaku itu di waktu esok. Di peperanganku yang pertama ini aku telah berhasil memperjuangkan dan mengagungkan nama Tuhanku di negeri hijau raya ini. Allahuakbar!!!

Kegelapan

November 7, 2008 at 7:10 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Sesosok wanita keluar dari cahayanya

Menuju ke kelam malam

Malam yang hitam tak berbintang

Tak berbulan tertutup mendung tebal

Malam ini

Pertama kali wanita itu ada diluar cahayanya

Tak tahu arah kemana ia pergi

Langit pun meneteskan air mata

Air mata yang membasahi tubuh

Air mata yang seperti jarum menusuk tubuh

Membuat wanita merasa kedinginan

Wanita yang tak tahu arah

Dia tersesat di kegelapan malam

Di kala kebingungan besar melanda

Sebuah tangan penuh harap mendekati diri wanita

Wajah dari pemilik tangan itu

Masih terlihat samar tertutup gelap malam

Wanita meraih harapan

dengan menggenggam erat tangan pertolongan yang melegakan

walau masih belum tahu siapa gerangan pemilik tangan itu

dan ternyata tangan itu adalah penjelmaan dari

sesosok iblis terlaknat

iblis yang membawa wanita ke dalam jurang kegelapan

memasuki dunia kegelapan dari kegelapan

dan wanita pasrah tak berdaya

tak tahu apa yang akan dilakukan iblis terhadapnya

wanita hanya bisa menangis merintih meminta belas kasih.

Dunia Tersenyum

November 7, 2008 at 7:02 am | In Uncategorized | Leave a Comment

Dunia yang keras pahit ini

Dia senantiasa berpeluh

Hanya untuk mencari sesuap nasi

Demi anak istri

Yang senantiasa menunggu kehadirannya

Di gubuk kesederhanaan

Sadarkah engkau wahai bumi

Dia berkorban dengan raga jiwa pikiran semua

Tahukah engkau wahai bumi

Dia tak pernah berkeluh kesah

Dunianya selalu tersenyum

Untuk kehidupannya yang menangis

Apabila kamu tahu perjuangan sang ayah itu

Tangisan darah sekali pun tak ada arti baginya

Sang ayah selalu tersenyum

Senantiasa tersenyum

Dia tak hanya diam

Dia tak pernah menyerah

Dia membanting tulang

untuk kehidupan di dunia

Yang hanya sementara

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.